Sabtu, 03 April 2010

Tentang Valentine (part1)

Menurut Ken Sweiger, “Valentine” berasal dari bahasa Latin yang mempunyai persamaan dengan arti: “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat, dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini sebenarnya pada zaman Romawi Kuno ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi.

Disadari atau tidak, demikian Sweiger, jika seseorang mengatakan “be my Valentine!” kepada pasangannya, maka orang tersebut sama saja melakukan suatu perbuatan yang dimurkai Tuhan secara terang-terangan. Toh, jika demikian, maka dapat diartikan “Jadilah sang maha kuasaku!”. Jika demikian, apa bedanya dengan menyamakan makhluk dengan sang pencipta?

Orang biasanya mengira perayaan Hari Valentine berasal dari Amerika. Namun sejarah menyatakan bahwa perayaan Hari Valentine sesungguhnya berasal dari Inggris. Di abad ke-19, Kerajaan Inggris masih menjajah wilayah Amerika Utara. Kebudayaan Kerajaan inggris ini kemudian diimpor oleh daerah koloninya di Amerika Utara.
Mengenai sejarahnya, sebenarnya belum ada kesepakatan di antara sejarawan secara khusus tentang bagaimana sejarah valentine.

Namun sumber yang paling populer adalah cerita tentang Santo Valentinus. Jadi ceritanya ada seorang pendeta bernama Santo Valentinus yang hidup pada masa Kaisar Claudius II. Nah, si Valentinus meninggal pada tanggal 14 Februari 269 M. Dan untuk mengenang kematiannya, maka ditetapkanlah hari kasih sayang, yang namanya itu diadopsi dari nama Santo Valentinus sendiri.

Kendati demikian, cerita di atas belumlah lengkap. Sebab saat itu, zaman Romawi kuno dipenuhi dengan legenda, mitos, penyembahan berhala, serta tradisi paganisme (dewa-dewi). Maka dari itu, setidaknya ada beberapa versi yang menjelaskan tentang asal-usul dan sejarah valentine.

Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II yang memerintahkan Kerajaan Roma berang dan memerintahkan agar menangkap dan memenjarakan Santo Valentine karena ia dengan berani menyatakan tuhannya adalah Isa Al-Masih, sembari menolak menyembah tuhan-tuhannya orang Romawi. Orang-orang yang bersimpati pada Santo Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.
Versi kedua menceritakan, Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat di dalam medan peperangan daripada orang yang menikah. Sebab itu kaisar lalu melarang para pemuda yang menjadi tentara untuk menikah. Tindakan kaisar ini diam-diam mendapat tentangan dari Santo Valentine. Alhasil ia pun –bisa dikatakan- menjadi biro jodoh. Secara diam-diam, ia menikahkan banyak pemuda. Namun ironisnya, usahanya ketahuan hingga akhirnya ditangkap. Lalu Kaisar Cladius memutuskan hukuman gantung bagi Santo Valentine. Eksekusi pun dilakukan pada tanggal 14 Februari 269 M. Nah, maka dari itu mengapa hari kasih sayang jatuh pada 14 Februari, mungkin inilah penyebabnya. Valentinus yang dianggap telah memperjuangkan hak-hak untuk bercinta lantas diabadikan dalam sebuah hari raya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar